Konstruktivisime merupakan proses pembelajaran yang
menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam diri manusia.
Unsur-unsur konstruktivisme telah lama dipraktekkan dalam proses belajar
dan pembelajaran baik di tingkat sekolah dasar, menengah, maupun
universitas, meskipun belum jelas terlihat.
Berdasarkan faham konstruktivisme, dalam proses
belajar mengajar, guru tidak serta merta memindahkan pengetahuan kepada
peserta didik dalam bentuk yang serba sempurna. Dengan kata lain, pesera
didik harus membangun suatu pengetahuan itu berdasarkan pengalamannya
masing-masing.
pembelajaran adalah hasil dari usaha peserta didik
itu sendiri dan guru tidak boleh belajar untuk peserta didik. Pola
pembinaan ilmu pengetahuan di sekolah merupakan suatu skema, yaitu
aktivitas mental yang digunakan oleh peserta didik sebagai bahan mentah
bagi proses renungan dan pengabstrakan. Fikiran peserta didik tidak akan
menghadapi kenyataan dalam bentuk yang terasing dalam lingkungan
sekitar. Realita yang diketahui peserta didik adalah realita yang dia
bina sendiri. Peserta didik sebenarnya telah mempunyai satu set idea dan
pengalaman yang membentuk struktur kognitif terhadap lingkungan
mereka.Untuk membantu peserta didik dalam membina konsep atau
pengetahuan baru, guru harus memperkirakan struktur kognitif yang ada
pada mereka. Apabila pengetahuan baru telah disesuaikan dan diserap
untuk dijadikan sebagian daripada pegangan kuat mereka, barulah kerangka
baru tentang sesuatu bentuk ilmu pengetahuan dapat dibina. Proses ini
dinamakan konstruktivisme.
Rutherford dan Ahlgren berpendapat bahwa peserta
didik mempunyai pemikiran mereka sendiri tentang hampir semua hal, di
mana ada yang betul dan ada yang salah. Jika kefahaman dan miskonsepsi
ini diabaikan atau tidak ditangani dengan baik, maka semua idea awal
yang dimliki mereka itu akan tetap kekal walaupun dalam ujian/tes,
mungkin mereka memberi jawapan seperti yang dikehendaki oleh guru.
John Dewey menguatkan teori konstruktivisme ini
dengan mengatakan bahwa pendidik yang cakap harus melaksanakan
pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina
pengalaman secara berkesinambungan. Beliau juga menekankan kepentingan
keikutsertakan peserta didik di dalam setiap aktivitas pengajaran dan
pembelajaran.
Ditinjau persepektif epistemologi yang disarankan
dalam konstruktivisme, maka fungsi guru akan berubah. Perubahan akan
berlaku dalam teknik pengajaran dan pembelajaran, penilaian, penelitian
dan cara melaksanakan kurikulum. Sebagai contoh, perspektif ini akan
mengubah kaidah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada
kemampuan peserta didik mencontoh dengan tepat apa saja yang disampaikan
oleh guru, kepada kaidah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu
kepada kemampuan peserta didik dalam membina skema pengkonsepan
berdasarkan pengalaman yang aktif. Ia juga akan mengubah tumpuan
penelitian dari pembinaan model berdasarkan kaca mata guru kepada
pembelajaran sesuatu konsep ditinjau dari kaca mata peserta didik.
Janassen et.al (1999) berpendapat proses pembelajaran
berlaku berdasarkan pengalaman seseorang. Pengetahuan yang mereka
peroleh itu adalah hasil interpretasi pengalaman tersebut yang disusun
dalam pikiran/otak seseorang. Pengetahuan yang diterima para peserta
didik secara formal di sekolah tidak boleh 100% (seluruhnya) dipindahkan
guru kepada peserta didik tersebut. Dengan kata lain, guru harus
berupaya untuk membina para siswa dalam upaya membentuk pengetahuan
tersebut berdasarkan pengalamannya masing-masing.
pembelajaran adalah hasil usaha peserta didik itu
sendiri. Guru tidak boleh belajar untuk peserta didik tersebut. Peserta
didik tidak lagi dianggap belajar daripada apa yang diberikan oleh
gurunya tetapi secara aktif membina realitas mereka sendiri dan pada
masa yang sama menyesuaikan realitas tersebut berdasarkan tanggapan
sendiri. Mereka akan membina pengalaman baru berdasarkan pengalaman dan
tanggapan yang lepas. Hal ini sesuai dengan pendapat Bruner (1999) yang
menyatakan bahwa pembelajaran konstruktivisme berdasarkan keterlibatan
aktif peserta didik dalam penyelesaian masalah dan pemikiran kritikal
dalam aktiviti pembelajaran. Mereka membina pengetahuan melalui
pengalaman sendiri dengan menguji idea-idea, segala informasi dan
mengaplikasikannya kepada situasi baru.
Merril (1991) mengelompokkan teori konstruktivisme ini kepada
beberapa bagian, yaitu:- Pengetahuan yang dibentuk melalui pengalaman
- pembelajaran adalah intepretasi seseorang terhadap lingkungan sekitarnya.
- pembelajaran merupakan satu proses aktif yang dibina dari pengalaman seseorang
- Konsep terhadap sesuatu pengalaman dibina dari penyatuan beberapa perspektif secara kolaboratif (konstruktivism kognitif dan konstruktivism sosial)
- pembelajaran dibina didalam situasi nyata.
Melalui teori konstruktivisme ini, diharapkan
pengajaran guru itu dapat memberi peluang kepada peserta didik untuk
meramalkan secara bebas dan terbuka segala pengetahuan setelah proses
pembelajaran berlangsung. Pengajaran secara tidak langsung itu nanti
dapat memberi satu pengalaman baru kepada peserta didik. Pengalaman itu
akan dikaitkan pula dengan teori kognitif di mana ia akan disimpan dalam
ingatan atau memori peserta didik baik pada jangka pendek atau ingatan
jangka panjang.
Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan, bahwa
dilihat dari perspektif estimologi yang disarankan oleh
konstruktivisme, maka peran guru akan berubah. Perubahan tersebut
meliputi teknik pengajaran dan pembelajaran, penelitian, dan pelaksanaan
kurikulum pada umumnya.
Sebagai contoh, guru harus mengubah kaidah mengajar
dari tuntutan agar peserta didik dapat meniru dengan tepat apa yang
disampaikan oleh guru, menjadi kaidah pembelajaran yang lebih menekankan
pada kemampuan peserta didik dalam membina skema pengetahuan
berdasarkan pengalaman nyata yang dialaminya. Dengan demikian,
pembelajaran harus diubah dari kaca mata guru menjadi pembelajaran
berdasarkan kacamata peserta didik. Artinya, bukan bagaimana guru
mengajar, melainkan bagaimana agar peserta didik dapat belajar.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa:-
murid tidak hanya dibekali dengan fakta-fakta, melainkan diarahkan pada kemampuan penguasaan dalam proses berfikir dan berkomunikasi,
-
Guru hanya merupakan salah satu sumber pengetahuan, bukan orang yang tahu segala-galanya. Jadi guru hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing belajar peserta didik.
-
sebagai implikasinya, dalam penilaian pun harus mencakup cara-cara penyelesaian masalah dengan berpatokan pada aturan yang berlaku. Teknik-teknik tersebut dapat berbentuk peta konsep, diagram ven, portopolio, uji kompetensi, dan ujian komprehensip.
Beberapa aliran dalam pembelajaran konstruktivisme,
yaitu:
-
- Piaget
pembelajaran konstruktivisme berdasarkan pemahaman
Piaget, beranggapan bahwa: 1) gambaran mental seseorang dihasilkan pada
saat berinteraksi dengan lingkungannya, 2) pengetahuan yang diterima
oleh seseorang merupakan proses pembinaan diri dan pemaknaan, bukan
internalisasi makna dari luar.
-
- Konstrukstivisme personal
pembelajaran menurut konstruktivisme personal,
memiliki beberapa anggapan (postulat), yaitu: 1) Set mental (idea) yang
dimiliki peserta didik mempengaruhi panca indera dan pada akhirnya akan
berpengaruh terhadap proses pembentukan pengetahuan, 2) Input yang
diterima peserta didik tidak memiliki makna yang tetap, 3) peserta didik
menyimpan input yang diterima tersebut ke dalam memorinya, 4) input
yang tersimpan dalam memori tersebut dapat digunakan lagi untuk menguji
input lain yang baru diterima, 5) peserta didik memiliki tanggung jawab
terhadap apa yang menjadi keputusannya.
-
- Konstrukstivisme sosial
Konstruktivisme sosial beranggapan bahwa pengetahuan
yang dibentuk oleh peserta didik, merupakan hasil interaksinya dengan
lingkungan sosial disekitarnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa:
a) pengetahuan dibina oleh manusia, 2) pembinaan pengetahuan bersifat
sosial dan personal, 3) pembina pengetahuan personal adalah perantara
soial dan pembina pengetahuan sosial adalah perantara personal, 4)
pembinaan pengetahuan sosial merupakan hasil interaksi sosial, dan 5)
interaksi sosial dengan yang lain adalah sebagian dari personal,
pembinaan sosial, dan pembinaan pengetahuan bawaan.
-
- Konstrukstivisme radikal
Konstruktivisme radikal dikembangkan oleh von
Glaserfeld (1984), yang beranggapan bahwa: 1) kebenaran tidak diketahuai
secara mutlak, 2) pengetahuan saintifik hanya dapat diketahui dengan
menggunakan instrumen yang tepat, 3) konsep yang terjadi adalah hasil
yang diperoleh individu setelah melakukan ujicoba untuk menggambarkan
pengalaman subjektif, 4) konsep akan berkembang dalam upaya penggambaran
fungsi efektif tentang pengalaman subjektif.
Implikasi konstrukstivisme terhadap pembelajaran adalah:- pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik, jika peserta didik tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya.
- Pada akhir proses pembelajaran, peserta didik memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda sesuai dengan kemampuannya.
- Untuk memutuskan (menilai) keputusannya, peserta didik harus bekerja sama dengan peserta didik yang lain.
- Guru harus mengakui bahwa peserta didik membentuk dan menstruktur pengetahuannya berdasarkan modalitas belajar yang dimilikinya, seperti bahasa, matematika, musik dan lain-lain
No comments:
Post a Comment